Tampilkan postingan dengan label Hikmah Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

Hakikat Penciptaan Manusia

Hakikat Penciptaan Manusia

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak...." (An-Nisaa': 1).

"Dzat yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) roh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 7-9).

Dalam dunia science, teori evolusi Charles Darwin sangat terkenal. Bahkan, walaupun hanya merupakan suatu kesimpulan yang tak terbukti sama sekali, banyak orang yang mempercayainya, karena ia berbaju science. Padahal, science sendiri yang dulunya dipercaya benar ternyata kemudian terbukti salah.

Salah satu dampak dari teori evolusi yang sesat itu adalah mengikis iman akan adanya Sang Pencipta. Dengan begitu secara tak disadari seseorang yang mempercayai teori evolusi akan dikikis imannya terhadap adanya Sang Pencipta.

Sebagai muslimin, kita harusnya mengembalikan hal ihwal penciptaan ini kepada Sang Pencipta itu sendiri, Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Tentunya jika disuruh memilih harus percaya siapa, tentunya kita harus percaya kepada Allah. Inilah yang harus menjadi landasan berpikir dan keyakinan kaum muslimin dalam mengetahui asal muasal penciptaan manusia.

Dalam hal ini Allah telah mewahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Alquran dalam beberapa surat dan ayat, di antaranya adalah ayat yang kita sebutkan di atas.

Ayat-ayat di atas menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia pertama kali dari tanah dan menyempurnakan bentuknya. Kemudia dari satu manusia itu--yakni Adam 'Alaihissalam--Allah menciptakan istri bagi Adam, kemudian dari keduanyalah Allah mengembangbiakkan manusia. Bahkan, hal itu sangat jelas dan mudah dipahami oleh siapa pun yang mau sejenak menggunakan otaknya dengan baik.

Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang timbul di kalangan kaum muslimin tentang teori Darwin ini dapat dijawab dengan ayat-ayat Alquran. Namun sayang, kebanyakan kaum muslimin kurang mengerti akan isi kitab sucinya. Mereka paling-paling hanya membaca Al-Fatihah serta surat-surat pendek di Juz 'Amma. Itu pun belum tentu dengan pemahaman yang benar akan kandungan ayat yang mereka baca.

Bahkan, sekarang telah timbul gerakan anti teori evolusi yang dipelopori Adnan Oktar dengan mengusung nama Harun Yahya. Dia adalah seorang muslim Turki. Gerakan ini mengguncang para penganut dan pencinta teori evolusi. Mereka bahkan mati kutu ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa teori yang mereka sanjung selama ini ternyata omong kosong belaka dan penuh kepalsuan. Sekali lagi terbukti bahwa adalah suatu kebodohan jika seseorang menuhankan science. Science bukanlah pencipta, science hanya menguak rahasia-rahasia yang tersimpan di balik ciptaan Allah ini. Dengan science manusia dapat memanfaatkan segala yang diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya. Seharusnya science juga mengantar manusia kepada iman terhadap Allah Sang Pencipta alam semesta, bukan malah sebaliknya. Wallahu al-musta'aan.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: www.ALISLAM.or.id

Sumanto Gentayangan?

Sumanto Gentayangan?

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Al-Hujuraat: 12).

Mbah Rinah, nenek berusia 81 tahun, baru saja meninggal dunia. Ia dikubur di desa Mojotengah, Kemangkon, Purbalingga. Tiba-tiba warga setempat geger. Belum sampai 24 jam dikubur, mayat mbah Rinah raib. Terang saja insiden ini melahirkan spekulasi mitos yang tidak karu-karuan. Teka-teki berakhir ketika polisi menangkap Sumanto, sang pencuri mayat. Mula-mula Sumanto menggali kuburan dengan tangan kosong pada Sabtu, (11/1/2003). Pada Ahad dini hari, kain kafan pembungkus mayat baru berhasil disentuh. Mayat mbah Rinah dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam karung plastik. Mayat diangkut ke rumah Sumanto dengan sepeda onthel. Sesampainya di rumah, Sumanto memotong alat vital nenek itu dan membungkusnya dengan kain merah. Selanjutnya ia memotong-motong mayat seperti memotong daging kambing. Sebagian dagingnya dibakar, sebagian digulai, dan sebagian dimakan mentah-mentah. Begitulah Sumanto, sang kanibal dari Purbalingga yang belakangan mencuat. Untuk ilusi mendapatkan kekebalan dan kekayaan, ia tega melakukan ritual menjijikkan itu. Gilanya, ia bahkan mengaku telah memakan daging tiga manusia sebelumnya.

Tak terbayang oleh akal sehat. Sebagian warga menduga ia tidak waras. Adalah warga setempat berteriak histris dan merasa jijik saat Sumanto melakukan rekonstruksi. "Ini tidak lazim," kata mereka. Rapat desa juga memutuskan hendak mengasingkan Sumanto dari kampung mereka. Reaksi warga setempat tidaklah berlebihan. Siapa pun, dari bangsa mana pun, dari agama apa pun, berkulit apa pun, sulit membenarkan aksi Sumanto. Tak ada yang berkeberatan jika ia dikatakan gila segila-gilanya. Juga tak ada yang rugi jika ia harus diasingkan. Tak ada yang sudi berkawan dan bertetangga dengan orang semacam dia. Itulah mengapa warga setempat mengasingkannya, dan meminta kepada aparat agar ia dihukum seberat-beratnya.
Jika kita ditanya, "Maukah kalian meniru Sumanto?" Secara koor kita akan menjawab, "Tidak!" Ei, tapi tunggu dulu. Jawaban itu bukan berarti kita tidak berperilaku seperti Sumanto. Kok bisa? Ya, di dalam Alquran, Allah menyerupakan perbuatan menggunjing terhadap muslim (ghibah) dengan memakan bangkai manusia. Persis seperti yang dilakukan Sumanto.

"Janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."

Setiap orang waras akan merasa jijik memakan bangkai manusia, terlebih bangkai saudara sesama muslim. Namun demikian, di dalam masyarakat gunjing-menggunjing antarsesama sudah seperti lumrah. Padahal, dalam ayat di atas, menggunjing orang lain disetarakan dengan memakan bangkai manusia.

Ibnu Katsir menceritakan dari Anas bin Malik bahwa adalah tradisi bangsa Arab bila bepergian mereka saling melayani. Dalam sebuah safar, Abu Bakar dan Umar disertai seorang pelayan. Saat keduanya terjaga dari tidur, sang pelayan belum menyediakan untuk mereka makanan. Beliau berdua berkata, "Sungguh ia orang mati (kiasan)," kemudian kedua membangunkannya dan menyeru, "Datanglah kepada Rasulullah dan sampaikan bahwa Abu Bakar dan Umar mengirimkan salam, serta meminta lauk." Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya keduanya telah memakan lauk." [Kontan, Abu Bakar dan Umar kaget], keduanya menghadap Rasulullah dan bertanya, "Dengan lauk apa kami makan?" Rasulullah menjawab, "Dengan daging saudara kalian. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh saya melihat dagingnya berada di antara gigi seri kalian." Keduanya r.a. lalu berkata, "Mintakan ampun untuk kami wahai Rasulullah!" Rasulullah menjawab, "Pergilah kepadanya dan mintalah maaf untuk kalian."

Tentu kita tidak seperti Rasulullah di atas, yang atas karunia Allah dapat melihat daging pada gigi seri bekas menggunjing. Namun, meski secara hissy (materiil) kita tidak dapat melihat, ayat di atas menegaskan bahwa secara maknawi, perilaku ghibah diserupakan dengan memakan daging manusia.

Lantas apakah ghibah itu? Rasululullah pernah menjawab kepada Abu Hurairah, "Ghibah itu adalah membicarakan tentang saudaramu terhadap apa yang ia tidak sukai." "Bagaimana jika padanya terdapat seperti apa yang saya katakan?" tanya Abu Hurairah. "Jika ada padanya seperti yang anda katakan, maka engkau telah menggunjingnya (ghibah). Namun, jika tidak ada padanya seperti yang anda katakan, maka engkau telah membuat kebohongan atas dia." (Tirmizi, hasan sahih)

Suatu ketika Aisyah r.a. berkata kepada Nabi saw., "Cukuplah bagimu tentang Shafiyah itu begini dan begini." (Maksudnya Shafiyah itu badannya pendek). Maka Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh, engkau telah mengucapkan sesuatu perkataan, yang sekiranya dicampur dengan air laut, maka perkataan itu dapat mencampurinya." (Abu Dawud dan Tirmidzi). Maksudnya, sekiranya perkataan itu bercampur dengan air laut, niscaya air laut tersebut berbau busuk semua. Padahal, air laut itu tidak akan busuk lantaran kadar garamnya banyak. Ini menunjukkan betapa dahsyat keburukan ghibah.

Al-Imam an-Nawawi berkata dalam al-Adzkar, "Adapun ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, sama saja apakah menyangkut tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan bibirmu, atau tulisanmu, isyarat matamu, isyarat tanganmu, isyarat kepalamu atau yang semisalnya...."

Demikianlah ghibah. Ia dapat meruntuhkan kehormatan seseorang yang digunjing. Karena, kehormatan tidak hanya aurat, tetapi kehormatan juga berupa celaan atau pujian. Ketika kita menggunjing seseorang, hakikatnya kita telah menggerogoti kehormatannya. Padahal, menjaga kehormatan sesama termasuk inti wasiat Rasulullah dalam khutbatul wada': "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti halnya keharaman hari kalian ini." Tidak hanya itu, diakhir khotbah Rasulullah menegaskan, "Ingatlah, adakah aku sampaikan?" "Ya," jawab para Sahabat. Beliau kemudian berkata, "Ya Allah, saksikanlah!" (Bukhari dan Muslim).

Jangan dikira bahwa keharaman zina dan riba lebih besar daripada keharaman menginjak-nginjak harga diri dan kehormatan seorang muslim. Dalam sebuah hadis sahih dinyatakan, "Riba itu ada tujuh lebih cabangnya. Yang paling rendah tingkatannya ialah seperti seorang laki-laki yang berzina (menikahi) dengan ibunya sendiri dibawah tirai Kakbah. Sedangkan yang paling tinggi tingkatannya ialah seperti seorang muslim yang mencemarkan harga diri saudaranya muslim." (Al-Albany, al-Jami'us Shaghir).

Bukan berarti setiap menyebut aib sesama dilarang. Dalam konteks tertentu, penyebutan aib seseorang dapat dibenarkan, seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, misalnya mengadukan kezaliman seseorang pada pihak berwenang dalam rangka meminta fatwa (istifta'), dalam rangka jarh wat-ta'diel, dalam rangka musyawarah mencari jodoh, menyebut kejelakan orang yang terang-terangan berbuat maksiyat, dan menyebut seseorang dengan gelaran yang ia masyhur dengannya.

Jika Sumanto Purbalingga yang suka makan tubuh orang tengah menghadapi proses hukum, "Sumanto" dalam makna lain tangah bergentayangan di tengah kita. Semoga kita dapat menjaga lisan dari menggunjing sesama, sehingga tidak masuk dalam kafilah "Sumanto". Nastaghfirullah al-adhim. Wallahu a'lam. (Abu Zahrah).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: www.ALISLAM.or.id

Empat Kaidah Iyyaaka Na'budu

Empat Kaidah Iyyaaka Na'budu

"Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5).

Sebagai muslim tentunya ayat di atas tidak asing bagi kita. Minimal tujuh belas kali kita ulang dalam salat fardu lima waktu. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sejauh mana kita dapat menyelami makna surah Al-Fatihah tersebut? Kalau belum, mari sejenak kita menyelami empat kaidah iyyaaka na'budu yang dikemukan oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut.

Iyyaaka na'budu tegak di atas empat kaidah: mewujudkan apa yang dicintai dan diridai Allah dan Rasul-Nya, berupa


  1. perkataan hati,
  2. perkataan lisan,
  3. amalan hati, dan
  4. amalan jawarih (anggota tubuh).

Ubudiyyah merupakan sebutan yang menyeluruh untuk empat tingkatan ini. Orang yang melaksanakan iyyaaka na'budu dengan sebenar-benarnya ialah yang melaksanakan empat tingkatan ini.

Perkataan hati ialah meyakini apa yang disampaikan Allah tentang diri-Nya, asma, sifat, dan perbuatan-Nya, tentang malaikat, dan perjumpaan dengan-Nya, sebagaimana yang disampaikan para rasul-Nya.

Perkataan lisan ialah berupa pernyataan darinya tentang hal itu, seruan kepada Allah (dakwah), menjelaskan kebatilan bidah, mengingat Allah dan menyampaikan perintah-perintah-Nya.

Amal-amal hati adalah seperti cinta kepada Allah, tawakal, bergantung kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, memurnikan agama dengan melaksanakan agama-Nya sesuai ajaran Rasul-Nya, sabar dalam melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, rida kepada-Nya, menolong karena-Nya dan bermusuhan karena-Nya pula, tunduk dan patuh kepada-Nya, thuma'ninah kepada-Nya, dan lain sebagainya yang berupa amalan hati. Kefarduan amalan hati ini lebih dari kefarduan amalan anggota tubuh, dan yang sunahnya lebih disukai oleh Allah daripada sunah-sunah anggota tubuh. Adapun amal-amal jawarih adalah seperti salat, puasa, jihad, mengayunkan kaki menuju salat jamaah dan salat Jumat, membantu orang lain, berbuat kebajikan kepada makhluk, dan sebagainya.

Iyyaaka na'budu mengikuti hukum empat kaidah dan ikrar kepadanya. Adapun iyyaaka nasta'iin merupakan tuntutan meminta pertolongan atas hokum-hukum itu serta taufik-Nya. Sedangkan ihdinaa ash-shiraath al-mustaqiim mencakup pengakuan terhadap dua perkara ini secara detail, ilham untuk melaksanakannya dan meniti jalan-jalan orang-orang yang berjalan kepada Allah dengan dua perkara itu.

Semua rasul hanya menyeru kepada iyyaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Mereka semua menyeru kepada tauhidullah (mengesakan Allah) dan penyembahan hanya kepada-Nya, semenjak rasul pertama hingga terakhir.

Demikianlah ulasan singkat ini untuk dapat menjadi bahan renungan bagi kita. Wallahu a'lam. (Ibnu).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: www.ALISLAM.or.id

Ulah Anak Manusia

Ulah Anak Manusia

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Ruum: 41).

Bumi Indonesia terkoyak. Negeri beribu pulau yang indah permai tiba-tiba menjadi negeri yang kaya akan musibah. Tidak hanya di daratan, tidak hanya di lautan, di udara pun ada musibah. Ketika hujan tertahan dari langit, Indonesia kekeringan. Gunung Kidul, Demak, Boyolali, dan tempat-tempat lain kekurangan air. Petani menjerit. Hujan kemudian turun. Tiba-tiba Bojonegero dan Jakarta banjir bandang. Belum kering luapan banjir, pasar Tanah Abang, Senen, dan permukiman Manggarai kebakaran. Sebuah pemandangan yang tampak ironis. Betapa tidak? api dan air mengamuk bersama di tempat yang berdekatan. Pasar Tanah Abang luluh lantak, hancur berkeping-keping. Kerugian ditaksir mencapai triliunan rupiah. Bukan hanya kerugian ekonomi yang diperkirakan, dampak sosial, psikologis, dan keamanan turut menghantui.

Giliran laut "unjuk gigi". KM Mutiara tenggelam di perairan Sumatera. Kapal karam karena kerusakan mesin. Puluhan korban berhasil dievakuasi. Selebihnya, belum diketahui nasib dan rimbanya, karena pemerintah memutuskan penghentian pencarian korban. Udara tak ketinggalan. Belum sepi langit Indonesia dari batuk gunung berapi: Papandayan, Merapi, dan muntahan lahar gunung di Menado, sebuah heli jatuh di hotel Sahid Jaya Jakarta. Sebelumnya, pesawat jenis cassa jatuh di Kalimantan, juga di Jawa Barat: tragis dan mengenaskan! Heli yang sedianya mendarat di lantai 22 jatuh berkeping-keping memenuhi kolam renang di lantai 3. Tiga orang tewas seketika, termasuk Mayor TNI AU Affandi Malik, sang pilot.

Ini belum cerita soal tanah longsor, gagal panen padi petani, gagal panen ikan tambak akibat banjir, kecelakaan kereta api, dan lain-lain. Demikian, musibah datang bertubi-tubi. Anak Bangsa yang memiliki nurani turut prihatin, sedih, dan pilu. Namun, cukupkah kita tenggelam dalam kesedihan dan kesedihan? Peristiwa demi peristiwa semestinya menjadi bahan introspeksi, ada apa dengan musibah? Adakah yang salah dengan diriku, masyarakatku, pemimpinku? Perhatikan firman Allah yang Maha Kuasa, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Ruum: 41).

Kerusakan di darat dan di laut disebabkan ulah anak manusia. Ibnu Katsir menuliskan, makna "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...." adalah seperti kurangnya panen pada tanaman dan tumbuhan yang disebabkan karena kemaksiatan. Abul 'Aliyah berkata, "Barang siapa bermaksiat kepada Allah di muka bumi, maka sungguh ia telah merusak bumi, karena baiknya bumi dan langit adalah dengan ketaatan (kepada Allah)."

Maksiat? maksiat?! Ia menjadi sumber bencana. Karena maksiat, barakah tertahan; karena maksiat, musibah berdatangan. Padahal, umumnya manusia sekarang akrab dengan maksiat. Maksiat tak mengenal kasta. Dari kawula alit hingga birokrat, orang miskin hingga orang kaya, pinggiran hingga gedongan, semua tenggelam dalam maksiat ria. Bahkan, kiai pun tak sunyi dari maksiat. Kok? ya, tengok rapat MUI Jombang beberapa waktu lalu. Seorang kiai keberatan atas pencekalan Inul, alasannya, goyangan Inul dalam konteks mencari nafkah. Dan, menampakkan aurat karena bekerja adalah halal, na'udzu billah. Ya, ketika syahwat memuncak, manusia sering kehilangan akal sehatnya.

Pada level pemimpin bangsa, maksiat yang mencolok adalah mengabaikan amanah, baik amanah yang menyangkut hak Allah maupun hak rakyat. Hak Allah yang diabaikan adalah hukum-hukum-Nya yang tidak ditunaikan, sedangkan hak rakyat yang diabaikan adalah hak untuk diayomi, dilindungi, dan disejahterakan. Para pejabat justru mengeksploitasi rakyat bak sapi perahan. Rakyat seperti komoditas yang bernilai jual tinggi. Semua demi syahwat kuasa dan kekayaan, baik untuk pribadi maupun kelompok. Betapa banyak pejabat menjadi kaya raya yang melampaui gajinya: berumah megah, bermobil mewah, berlaku jetset dan borjuis. Sementara, bagi rakyat, mencari sesuap nasi sulitnya minta ampun. Untuk makan saja harus "senin-kemis", itu pun masih ditingkahi kenaikan harga yang membubung tinggi.

Soal korupsi, alamaaak, jangan ditanya lagi! Oleh PERC, lembaga penelitian yang bermarkas di Hongkong, Indonesia bahkan dinobatkan sebagai negara terkorup se-Asia. Sedemikian canggihnya hingga tindak korupsi di Indonesia sulit dibuktikan secara hukum. Tetapi, (maaf) ia seperti kentut, baunya terasa tapi wujudnya tak terlihat. Karenanya, ketika seorang tokoh menyatakan partainya sebagai terkorup, dia kesulitan memberikan bukti materiil, meski banyak orang meyakini kebenarannya.

Sebab lain datangnya musibah adalah hilangnya budaya malu. Tengok, bangsa yang sedemikian besar dipimpin oleh seorang yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan negeri, bahkan pengadilan tinggi. Namun ia tetap segar bugar, sehat walafiat, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dan tidak merasa bersalah. Itu level pejabat tinggi. Level akar rumput, masyarakat tenggelam dalam "inulian", joget-joget, tari-tarian yang mengumbar aurat, dan menganggapnya semua itu sebagai kewajaran. "Gilanya", ketika pro- kontra jogetan erotis merebak, sebuah partai besar malah hendak menjadikan si penjoget menjadi maskot. Seolah akhlak, moral, dan etika tak penting lagi, bagai nilai usang yang kolot dan harus direformasi dengan nilai permisif (serba membolehkan).

Hadis berikut patut dicamkan. Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Hai golongan Muhajirin, ada lima perkara jika kamu ditimpa atau ia terjadi di lingkunganmu--saya berlindung kepada Allah jika hal itu terdapat di antaramu. Bila suatu kaum melakukan perzinaan (faahisyah) secara terang-terangan, mereka akan diserang penyakit yang belum pernah dialami oleh nenek moyang mereka. Bila mereka mengurangi timbangan dan takaran, mereka akan dihukum dengan kepapaan dan kemiskinan serta kelaliman dari pihak penguasa. Bila mereka enggan membayar zakat harta mereka, mereka akan terhalang beroleh hujan dari langit, kalaulah bukan karena hewan ternak, tiadalah mereka akan pernah diberi hujan. Bila mereka melangar janji Allah dan janji Rasul-Nya, mereka akan dijajah musuh dari bangsa lain yang akan merampas sebagian kekayaan mereka. Bila pemimpin mereka tidak menjalankan hukum-hukum yang tertera dalam kitabullah, maka silang sengketa akan berkobar di antara mereka." (HR Ibnu Majah, Al-Bazzar dan Baihaqi).

Fenomena sosial ini menghajatkan perubahan. Tentu bukan perkara mudah mewujudkannya. Harapan tinggal tertumpu kepada pemilik nurani yang berpihak kepada kebenaran dan keadilan. Kuncinya sabar dan istiqamah. Tidak lelah dalam menyuarakan seruan moral, selirih apa pun suara itu. Dengan harapan seruan itu dapat menghadang laju percepatan kemungkaran, karena kemungkaran yang berlarut menjadi sumber bencana. Ketika bencana tiba, kadang ia tidak mengenal lagi mana orang baik dan mana orang buruk. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah suatu kaum yang kemaksiatan dilakukan di tengah-tengah mereka, padahal mereka lebih kuat dan besar jumlahnya dari yang melakukannya namun tidak mengubahnya, kecuali Allah timpakan azab untuk mereka secara umum." (Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Semoga musibah yang menimpa bangsa ini menyadarkan kita untuk kembali ke jalan Allah Ta'ala, sebagaimana bunyi dari akhir ayat di atas, "... supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." Wallahu a'lam. (Abu Zahrah).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: www.ALISLAM.or.id

Pasukan Sekutu

Pasukan Sekutu

"Hai orang-orang beriman, ingatlah akan nikmat (yang telah dikaruniakan) kepadamu tatkala datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah orang-orang beriman diuji dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat hebat." (Al-Ahzab: 9--11).

Setelah terusir dari Madinah, pemuka Yahudi bani Nadhir mendatangi Mekah. Mereka adalah Sallam bin Misykam, Allam bin Abul Haqiq, serta Kinanah bin Abur Rabi'. Misi mereka adalah menggalang kafir Quraisy untuk memerangi Rasulullah saw. "Kami akan berperang bersama kalian hingga berhasil menghancurkannya," demikian bujuk mereka. Gayung bersambut, Abu Sufyan bersama tokoh Quraisy mengamininya. Mereka kemudian menggalang kabilah Ghathafan, kabilah Aslam, dan kabilah Asyja'. Terbentuklah pasukan sekutu di bawah komando Abu Sufyan. Terhimpun di dalamnya 10.000 pasukan, sebuah aliansi "super power" yang dapat menjadi alasan pasukan muslimin untuk gentar, terlebih jumlah mereka hanya berkisar 3000 personal.

Sebuah syuro digelar di Madinah, menyikapi ekspansi pasukan sekutu yang sebentar tiba. Adalah Salman al-Farisi yang memiliki ide cemerlang, ia mengusulkan penggalian parit di sekitar Madinah, sebuah usulan yang membuat kagum para sahabat, karena taktik semacam itu belum pernah dikenal dalam tradisi perang Arab. Maklum, Salman berasal dari Persi. Di bawah pimpinan Rasulullah, para sahabat mulai menggali parit, atau yang dikenal dengan Khandaq. Sebagian ahli sejarah mencatat peristiwa ini terjadi tahun 4 Hijriah, sebagian yang lain menyatakan tahun 5 Hijriah. Pendapat terakhir dinyatakan Ibnu Katsir sebagai terkuat.

Demikianlah, pasukan sekutu mengepung Madinah. Kaum muslimin bertahan di dalamnya. Padahal, masa itu Madinah paceklik. Adalah sahabat Jabir yang bercerita, seperti diriwayatkan Imam Bukhari, "? kami tidak pernah merasakan makanan apa pun selama tiga hari...." Untuk mengatasi lapar, Rasulullah bahkan mengganjal perutnya dengan batu. Kondisi itu memanggil Jabir untuk memasak sedikit gandum dan seekor kambing yang dimilikinya, dengan niat hanya untuk dipersembahkan kepada Rasulullah dan beberapa sahabat terkemuka. Maklum, porsi masakan hanya cukup untuk beberapa orang. Namun, kehendak Allah berbicara lain, melalui tangan Rasulullah terjadi mukjizat, masakan yang sedikit itu mencukupi, bahkan lebih untuk seluruh sahabat, ajaib!

Masalah yang menghimpit umat Islam tidak hanya sekadar paceklik, kaum munafik juga menebar isu menggelisahkan. Kepada penduduk Madinah mereka melecehkan ramalan Rasulullah. Mereka berkata, "Muhammad menjanjikan kita istana Kisra dan Kaisar, padahal ancaman musuh telah membuat seorang di antara kita hampir tidak bisa membuang hajat." "Dan (ingatlah) ketika orang-orang Munafik dan orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjadikan kepada kita melainkan tipu daya." (Al-Ahzab: 12). Demikian kaum Munafik, ular dalam selimut, dalam kondisi genting semacam itu mereka justru menebar isu yang dapat meruntuhkan moral kaum muslimin.

Belum usai kaum Munafik menebar isu, masalah berikutnya terhampar di depan mata. Bani Quraidhah, sekte Yahudi yang selama ini masih terikat perjanjian dengan umat Islam, berkhianat. Mereka termakan hasutan Huyay bin Akhtab untuk melawan Rasululullah dan sahabatnya. Ini bukan persoalan sepele karena mereka jelas bertetangga dengan umat Islam. Dus, tinggal dalam lingkaran Khandaq yang siap membokong dari belakang, padahal menurut Ibnu Katsir, jumlah mereka berkisar 800 serdadu dan memiliki benteng tinggi di sebelah timur Madinah.

Rasululullah kemudian mengirim empat sahabat: Sa'ad bin Mu'ad, Sa'ad bin Ubadah, Abdullah bin Rawahah, dan Jabir bin Khowat. Mereka bertugas mencari kebenaran info pengkhianatan Quraidhah. Rasulullah mewanti-wanti mereka agar merahasiakan jika benar Quraidhah berkhianat. Setelah mendapatkan cukup bukti pengkhianatan, mereka memberi isyarat kepada Rasulullah dengan dua kata: adhal dan qarah. Maksudnya, mereka berkhianat sebagaimana Adhal dan Qarah mengkhianati Nabi saw. Arahan Rasulullah tersebut dimaksudkan agar suasana tidak semakin keruh, terlebih dapat meruntuhkan moral kaum muslimin.

Beratnya masalah yang dirundung kaum muslimin, seperti dilukiskan dalam ayat di atas, "?ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah orang-orang beriman diuji dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat hebat."

Ketika pasukan sekutu mengepung, ketika kaum munafik menikam dari dalam, ketika Yahudi nyata berkhianat, musuh bukan hanya yang di depan berhadapan. Mereka berada di belakang, samping kanan, samping kiri, bahkan sebagiannya berbaur dengan mereka dari golongan munafik. Suasana mencekam, serasa tak ada tempat aman, wajar bila dada para sahabat terasa sesak, mereka sangat terjepit. Kondisi itu bahkan sempat memunculkan prasangka yang bermacam-macam terhadap Allah Taala. Alhamdulillah, Allah kemudian menurunkan nasr (pertolongan), seperti pada ayat di atas, "Hai orang-orang beriman, ingatlah akan nikmat (yang telah dikaruniakan) kepadamu tatkala datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya." (Al-Ahzab: 9).

Moral, termasuk variabel penting untuk menentukan menang kalahnya sebuah pertarungan. Kuat lemahnya moral, biasa terbangun melalui input dan isu. Dalam perang Uhud, musuh Islam memberitakan bahwa Rasulullah telah terbunuh. Isu tersebut sempat menjadikan sebagian pasukan Islam melarikan diri ke pinggiran kota Madinah. Kata mereka: "Apa yang dapat kita perbuat setelah Rasulullah saw. terbunuh?" Bahkan, salah satu unsur penyebab kemenangan muslimin dalam perang Khondaq sendiri adalah perang urat saraf, seperti yang dilakukan sahabat muallaf; Nu'aim bin Mas'ud, yang berhasil memecah belah koalisi Musyrikin Arab dengan Yahudi Quroidhah.

Karenanya, menjaga moral sangat penting. Moral yang jatuh, jangan harap dapat memenangkan sebuah pertarungan, apalagi ia jatuh sebelum bertarung. Karenanya ia harus dirawat dan dijaga. Itulah sebabnya kenapa muncul istilah psywar (perang urat syaraf), propaganda weapon, dan sejenisnya. Dalam kompetisi sepak bola saja, masing-masing kesebelasan perlu memperkuat timnya dengan supporter, tak lain untuk menjaga stamina moral, disamping untuk meruntuhkan moral lawan.

Itulah ibrah yang menonjol dalam dalam perang Khondaq. Saat suasana genting dan mencekam, ditingkahi isu dan gosip yang berseliweran, Rasulullah selalu menjaga moral para sahabat. Beliau pesankan kepada tim investigasi agar merahasiakan pengkhianatan Quroidhah. Bahkan, ketika berita pengkhianatan dinyatakan valid, beliau tetap berujar, seperti banyak ditulis ahli sejarah: "Allahu Akbar, Bergembiralah kalian wahai kaum muslimin."

Katrol moral yang paling tampak adalah kabar gembira yang diramalkan Rasulullah. Ketika ada sebongkah batu yang tidak mempan oleh gancu para sahabat, Rasulullah datang mengatasi. Pukulan pertama Rasulullah memunculkan percikan api yang berhamburan, demikian juga pukulan kedua. Pukulan ketiga menjadikan batu hancur berkeping-keping. Rasulullah bertakbir, disusul takbir para sahabat. Di tengah para sahabat yang tengah goncang, Rasulullah memberi kabar gembira: "Pada percikan bunga api pertama, tampak dalam pandanganku istana Bashra dari Syam, Jibril memberitahu kepadaku bahwa umatku akan mengalahkannya. Pada percikan bunga api yang kedua, tampak dalam pandanganku istana Hirah dari Iraq, Jibril memberitahu kepadaku bahwa umatku akan mengalahkannya. Pada percikan bunga api yang ketiga, tampak dalam pandanganku istana San'a dari Yaman, Jibril memberitahu kepadaku bahwa umatku akan mengalahkannya.

Benturan peradaban Islam vs non-Islam telah, tengah, dan akan selalu terjadi. Dewasa ini predator Islam diwakili oleh Barat beserta sekutunya. Kalkulasi rasio manusia akan menyimpulkan bahwa Barat di atas angin. Bayangkan, kekuatan apa yang dimiliki Barat? Serasa tak ada jalan bagi Islam untuk menang. Apalagi, belakangan Barat memiliki senjata baru: memerangi terorisme. sebuah istilah yang naifnya ditafsirkan seenaknya oleh Barat. Dengan begitu, seolah mereka mendapat pengesahan untuk melakukan apa pun dengan dalih memerangi terorisme, yang naifnya juga selalu diarahkan kepada kelompok Islam pro syariat. Dengan begitu, tak tertutup kemungkinan perburuan terhadap Islam akan terus terjadi, cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung.

Tragisnya, ancaman Islam ternyata tidak hanya dari adidaya Barat secara langsung. Ia juga mewujud dalam sekelompok "Islam" yang bervisi Barat, atau sekurang-kurangnya sekelompok boneka Barat. Politik belah bambu, politik adu domba, stick and carrot adalah instrumen yang lazim digunakan Barat, "lempar batu sembuyi tangan," kata orang Indonesia.

Dengan begitu, sangat mungkin akan tercipta suasana psikis yang "mencekam". Yang pasti, suasana semacam itu terjadi pada negeri-negeri muslim yang tengah bergolak, semisal Palestina, Afghanistan, Filipina Selatan, Kasymir, dan Irak. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan akan juga terjadi pada negeri-negeri muslim yang di dalamnya gerakan Islam tumbuh berkembang, terlebih "keberhasilan" sementara Barat menciptakan common enemy makhluk bernama teroris. Dalam suasana semacam itu, yang diperlukan umat Islam antara lain adalah menjaga stamina moral. Suasana hati harus ditata sebaik-baiknya untuk siap menghadapi risiko yang paling pahit sekalipun. Isu tak bertanggung jawab yang dapat meruntuhkan moral juga meski dibatasi penyebarannnya, karena jika larut termakan perang urat syaraf, hanya akan menjadikan musuh bersorak riang.

Dalam keadaan lemah tak berdaya menghadapi makar musuh, hati bisa menjadi kecil. Meski demikian, jangan lupa, Allah berjanji dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al-Hijr: 9). Benturan antara haq dengan bathil adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, Allah sendiri yang memberi garansi akan menjaga al-haq itu sendiri.

Sekarang sejauh mana komitmen kita memegangi prinsip kebenaran itu sendiri? Jasad muslimin abad ini boleh musnah, namun kebenaran yang diyakini tidak akan pernah padam. Akan selalu terisisa thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) dari umat ini. Seperti banyak dinyatakan oleh Rasululullah saw., "Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran, tidak akan membahayakan (ancaman) orang yang memerangi mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai hari kiamat." (HR Bukhari). (Abu Zahrah)

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: www.ALISLAM.or.id

Jejak-Jejak Iblis

Jejak-Jejak Iblis

"Maka setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya, dan setan berkata: 'Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)'. Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.' Dia membujuk keduanya dengan tipu daya...." (Al-A'raf: 20--22).

Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji akan mendongkel mereka dari surga. Tidak hanya itu, iblis juga berjanji menggelincirkan anak cucu Adam sampai kiamat. Demi ambisinya, iblis bahkan meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan. Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon larangan. Pohon yang Allah melarang keduanya untuk mendekati dan memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa terbahak. Akhirnya, mereka semua dikeluarkan dari surga.

Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya.... Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak, karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah maksiyat kepada Allah. Fawaswasa lahuma? (Iblis kemudian membisiki keduanya). Waswasah adalah bisikan hati dan suara yang pelan. Artinya, iblis melakukannya secara halus, melalui bisikan hati, dan kadang tidak terdeteksi.

Setan berkata, "Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di surga."

Pintu tipu daya terbesar adalah ketika iblis berhasil mengidentifikasi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan?, itulah yang banyak menjadi pintu tipu daya setan. Seperti maklum, setan menggoda Anak Adam melalui aliran darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk menanyai apa yang disukai dan apa yang tak disukai; apa yang diingini dan apa yang tak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini.

Setelah iblis berhasil mengendus keinginan moyang kita, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat simpatik, Waqaasamahumaa innii lakumaa la-minan-naasihiin (Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua....').

Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan dengan sumpah (waqaasamahumaa) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya (inni), unsur objek dikedepankan dari subjek (lakumaa sebelum naasihin) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa bermakna, "Nasihatku kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku."

Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan isim fa'il yang menunjukkan sifat, dan bukan fi'il yang menunjukkan kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai: memberikan nasihat adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden.

Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari banyak penasihat (laminan-naasihin), dengan begitu seolah dia berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang menyuruhmu berbuat begitu."

Singkatnya, iblis menggunakan politik meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah, "Setan berkata: 'Wahai Adam, maukah kutunjukkan kepadamu pohon kekekalan (syajaratul khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa'?" (Thaha: 120).

Politik Iblis banyak ditiru pengikut-pengikutnya. Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan" semacam di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama cantik. Judi dinamakan adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial; pelacur dijuluki wanita idaman; riba disebut bunga; pengingkaran terhadap ayat dinamakan kontekstualisasi; penyelewengan Alquran diklaim membumikan Alquran; pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi. Memerangi Islam disebut memerangi teroris, dan seterusnya.

Mendompleng keinginan orang juga lazim digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Kadang "singgungan" itu berupa rangsangan untuk menuju keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam "suapan". Betapa banyak misionaris yang membujuk umat Islam dengan kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau terdesak kebutuhan. Juga betapa sering bangsa Barat memperalat pemerintahan negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang menggiurkan atau yang lazim disebut dengan politik stick and carrot.

Sebagaimana iblis berkedok menjadi penasihat profesional, para pengikutnya di era modern juga demikian. Penasihat yang memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan sumpah atas nama Allah, dan dengan penguatan-penguatan lain, para penasihat modern tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami'na waata'na didikte oleh lembaga semacam IMF dengan dalih penyelamatan, meskipun sesungguhnya penjerumusan.

Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak (sesungguhnya aku salah satu pemberi nasihat), setan modern demikian juga. Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era modern opini media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas penduduk dunia.

Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran, "Katakanlah: 'Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahaan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia'." (An-Naas: 1--6). (Abu Zahrah).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber: ALISLAM.or.id

Manusia Menyikapi Petunjuk

Manusia Menyikapi Petunjuk

"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah karunia yang amat besar." (Fathir: 32).

Ada tiga tipe umat terkait sikap mereka terhadap Alquran: dhalimun linafsih, muqtashid, dan saabiq bil khairaat.

Dhalim linafsih artinya orang yang menganiaya diri sendiri, yaitu mereka yang meninggalkan sebagian amalan wajib dan melakukan sebagian yang diharamkan. Seperti, orang menjalankan salat tetapi korupsi, menjalankan saum Ramadan tetapi suka riya, pergi salat Jumat tetapi menggunjing orang, membayar zakat tetapi menyakiti tetangga, membelanjai istri tetapi juga menyakitinya, berhaji tetapi menzalimi karyawan. Pendek kata, dhalimun linafsih adalah orang yang terpadu dalam dirinya kebaikan dan keburukan, yang wajib kadang ditinggalkan, yang haram kadang diterjang.

Muqtashid artinya orang pertengahan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh amalan wajib dan meninggalkan segala yang haram, walau terkadang masih meninggalkan yang sunah dan mengerjakan yang makruh. Seluruh kewajiban ia penuhi, baik kewajiban pribadi (seperti salat, zakat, puasa, dan haji) maupun kewajiban menyangkut hak orang lain (seperti berbakti pada orang tua, menafkahi istri, berbuat adil, dan seterusnya).Yang haram ia tinggalkan, seperti, mencela, mengumpat, memeras, dan seterusnya. Ia kadang meninggalkan amalan sunah dan kadang melakukan hal yang makruh. Bukan berarti orang semacam ini tidak pernah berbuat dosa, tetapi jika ia berbuat dosa Allah mengampuni dosanya lantaran taubat atau hal lain yang menghapuskannya.

Saabiq bil khairaat artinya orang yang beregegas dalam kebaikan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh yang wajib dan sunah, meninggalkan yang haram dan makruh, juga sebagian yang mubah. Syaikhul Islam dalam Majmu' Fatawa menulis, "Saabiq bil khairaat adalah mereka yang mendekatkan diri (bertaqarrub) dengan segenap kemampuannya untuk menunaikan yang wajib dan yang sunah serta meninggalkan yang haram dan makruh, walaupun ini tidak menutup kemungkinan golongan muqtashid, dan saabiq bil khairaat mempunyai dosa yang dihapuskan darinya, baik itu dengan taubat, amalan yang bisa menghapus dosa, musibah, atau yang lain.

Perhitungan Mereka di Akhirat

Abu Darda mendengar Rasulullah saw. bahwa kelompok saabiqun adalah mereka yang akan masuk janah (surga) dengan tanpa hisab. Kelompok muqtashid adalah mereka yang akan dihisab dengan hisab yang ringan (hisaban yasiira). Kelompok dhalimun adalah mereka yang mendapat rintangan sepanjang mahsyar, kemudian Allah menghapus kesalahannya karena rahmat-Nya, hingga mereka berkata, "Dan mereka Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rab kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (jannah) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu." (Fathir: 34--35). (R Imam Ahmad).

Di Mana Posisi Kita?

Dalam Tafsir Ibnu Katsir halaman 534 disebutkan bahwa suatu ketika ibunda Aisyah r.a. ditanya oleh Uqbah bin Shuhban al-Hinai tentang ayat di atas. Beliau menjawab, "Wahai anakku, mereka berada di janah. Adapun sabiq bil khairat adalah mereka yang telah berlalu pada masa Rasulullah saw., Rasulullah menjanjikan untuk mereka janah. Adapun muqtashid adalah mereka yang mengikuti jejaknya dari kalangan sahabatnya sehingga bertemu dengan mereka. Adapun dhalim linafsih adalah seperti aku dan kalian?."

Komentar ibunda Aisyah r.a. yang mengelompokkan dirinya ke dalam dhalim linafsih, tentu sebuah ketawadhu'an, sebagaimana dinyatakan oleh Uqbah bin Shuhban, menurutnya, Ibunda Aisyah justru termasuk pemuka sabiq bil khairat. Namun, bagi kita tidak ada alasan untuk tidak menyatakan diri kita sebagai muqtashid apalagi sabiq bil khairat.

Tampaknya yang tersisa bagi kita adalah posisi dhalimu linafsih. Betapa tidak? setiap hari kita selalu bergelimang dosa. Terlalu banyak kewajiban yang kita tinggalkan, juga terlalu banyak larangan yang kita terjang. Setiap waktu kita sering melihat hal yang tidak boleh dilihat, mendengar hal yang tak boleh didengar, dan berucap ucapan yang dilarang.

Tiga kelompok di atas memang akhirnya dinyatakan akan masuk janah, karena mereka adalah umat Muhammad saw. yang bertauhid. Namun, bagi kelompok dhalim linafsih sungguh berada pada posisi terancam. Mengapa? untuk dapat memasuki janah, kelompok ini harus melewati proses hisab yang berat. Beruntung jika mendapat ampunan dan rahmat Allah, hingga selamat dalam meniti shirat, jika tidak, api neraka akan turut menjilati tubuh sebagai pembalasan atas dosa yang dilakukan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menulis, "Dhalimun linafsih termasuk dalam kelompok orang-orang yang beriman, mereka mendapatkan walayah (kecintaan) dari Allah sebatas iman dan takwanya, dan sekaligus mendapatkan adawah (permusuhan) sebatas kefajirannya. Yang demikian itu karena pada seseorang bisa jadi terkumpul kebaikan-kebaikan yang menjanjikan pahala dan kejelekan-kejelekan yang menjanjikan siksa, sehingga seseorang mungkin saja diberi pahala dan disiksa. Ini adalah pendapat seluruh sahabat, para imam dan Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang menyatakan bahwa siapa pun yang dihatinya ada seberat zarah dari iman, tidak akan kekal di neraka."

Semoga kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan ampunan Allah, hingga terhindar dari panasnya api neraka. Wallahu a'lam. (Abu Zahrah)

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Solidaritas

Solidaritas

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujuraat: 10).

Seorang muslimah Arab pergi ke pasar Yahudi bani Qainuqa. Ia mendatangi seorang tukang-sepuh untuk menyepuhkan perhiasannya. Muslimah itu bermaksud menunggu sampai selesai, tiba-tiba beberapa orang Yahudi datang mengerumuninya. Dengan nada mengejek, mereka meminta kepada si wanita untuk membuka purdahnya. Permintaan itu ia tolak mentah-mentah.

Namun, secara diam-diam, si tukang sepuh menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi seluruh tubuh itu pada bagian punggungnya. Ketika si wanita berdiri, terbukalah aurat bagian belakangnya. Melihat pemandangan itu, orang-orang Yahudi bersorak riang. Si wanita pun menjerit meminta tolong.

Kegaduhan segera terjadi. Seorang mukmin yang kebetulan berada di lokasi segera bereaksi. Secepat kilat ia menyerang tukang sepuh dan membunuhya. Orang-orang Yahudi menjadi murka karenanya. Mereka balas mengeroyok si mukmin hingga terbunuh.

Insiden itu sebagai awal pengkhianatan Yahudi Qainuqa. Sebelumnya, mereka terikat perjanjian untuk hidup damai berdampingan dengan umat Islam. Nyatanya, kedengkian yang memuncak membuat mereka tidak bisa mengendalikan diri. Akibatnya, Rasulullah beserta para sahabat mengepung mereka selama beberapa hari. Mereka kemudian menyerah dan siap menerima hukuman sesuai nota perjanjian. Keputusunnya, mereke diusir dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota Madinah. Ini terjadi pada bulan Syawal tahun kedua hijriah, seperti diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam Shirahnya.

Insiden ini menjadi sebuah peristiwa bersejarah. Ia bahkan menjadi pemicu bagi perubahan peta politik Madinah saat itu. Qainuqa mendapat keadilan dengan diusir dari Madinah. Meski ada faktor lain sebelum insiden ini, yaitu kedengkian kaum Yahudi atas kemenangan umat Islam di Badar. Seperti statement mereka ketika menyambut seruan Rasulullah: "Wahai Muhammad, apa kamu mengira kami seperti kaummu? Janganlah kamu membanggakan kemenangan terhadap suatu kaum yang tidak mengerti ilmu peperangan. Demi Allah, seandainya kami yang kamu hadapi dalam peperangan, niscaya kamu akan mengetahui siapa sebenarnya kami ini." (Al-Buthy, Fiqhus Shirah).

Melihat harga diri saudaranya dilecehkan, begitu besar solidaritas seorang sahabat. Begitu juga kecintaan sahabat terhadap Islam, tidak sudi melihat ajarannya diolok-olok. Begitu besar keputusan yang ia ambil, yang berisiko kematian bagi dirinya. Ia mencintai karena Allah, Ia membenci karena Allah. Dalam Islam, membela kehormatan ('irdl) adalah sebuah kemuliaan.

"Barang siapa terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid, dan barang siapa yang terbunuh karena membela darahnya maka dia syahid, dan barang siapa terbunuh karena membela agamanya maka dia syahid, dan barang siapa terbunuh membela keluarganya maka dia syahid." (HR Tirmidzi dan Nasa'i).

Ubadah bin Shamith, yang memiliki persekutuan dengan Qainuqa, secara tegas menyatakan kepada Rasululullah saw., "Sesungguhnya aku memberikan loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin, dan aku melepaskan ikatan persekutuan dengan orang-orang kafir tersebut." (Al-Buthy, Fiqhus Shirah).

Apa yang melatarbelakangi sikap-sikap itu? Tak lain adalah cinta. Seperti perkataan Ibnu Qoyyim, "Pangkal perbuatan dan pergerakan di alam ini adalah cinta dan keinginan. Cinta melahirkan pengorbanan. Cinta memunculkan rasa cemburu dan benci terhadap lawan yang dicinta. Karena itu, kata Rasulullah, Autsaqu 'urol iimaani alhubbu fillahi wal bughdhu fillahi (Ikatan iman yang paling kuat adalah kecintaan karena Allah dan kebencian karena Allah) (R Abu Dawud dan Ahmad). Benci dan cinta adalah setali mata uang.

Karena cintanya terhadap Islam, keimanan sang sahabat terusik manakala menyaksikan pelecehan terhadap saudara muslimahnya. Ubadah bin Shamit demikian juga langsung memutuskan hubungan perlindungan dengan mereka. Mereka ditautkan rasa solidaritas persaudaraan, karena sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Sikap mereka menggambarkan seakan mereka satu bangunan yang saling menguatkan, satu tubuh yang jika ada organ tubuh lain sakit, ia turut merasakannya, seperti pernyataan Rasulullah saw., "Permisalan orang mukmin dalam mereka saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menaruh simpati adalah laksana satu tubuh, yang jika salah satu dari anggota tubuh merasa sakit, seluruh anggota tubuh lainnya turut merasakan dampaknya dengan panas atau tidak bisa tidur." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. juga bersabda, "Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain laksana sebuah bangunan yang sebagaian yang lain dengan sebagian yang lainnya saling menguatkan." (HR Bukhari dan Muslim).

Antara lain karena hal Itulah, mengapa dalam Asy-Syarhul Kabir dijelaskan bahwa ketika seseorang mempunyai kelebihan makanan, sedangkan ia membiarkan orang lain kelaparan hingga mati, maka wajib atasnya membayar diyat (penebus) kematian dengan hartanya sendiri dan harta keluarga dekatnya. Itu jika ia tidak sengaja membiarkannya mati kelaparan, jika ia sengaja, maka ada perbedaan pendapat. Sebagian Ulama berpendapat ia harus membayar diyat dari hartanya sendiri dan tidak boleh dibebankan kepada keluarga dekatnya. Sebagian yang lain berpandangan ia harus diqishas.

Juga karena sebab ini, disebutkan dalam Al-Bahrur Ra'iq, "Jika ada seorang muslimah di bagian timur ditawan musuh, maka wajib bagi kaum muslimin yang berada di bagian barat bumi untuk membebaskannya."

Cuplikan fatwa ini menggambarkan betapa solidaritas sesama mukmin merupakan hal yang sangat urgen dalam Islam. Muslim laksana satu bangunan yang saling menguatkan. Muslim laksana satu tubuh dan satu jiwa. Derita mereka derita kita, kesulitan mereka kesulitan kita. Jika seorang muslimah saja yang ditawan di belahan timur menjadikan wajib bagi muslimin di belahan barat untuk membebaskannya, maka bagaimana dengan ribuan muslimah yang tidak hanya ditawan, melainkan dianiaya, diperkosa, dibunuh seperti dialami muslimah Bosnia Herzegovina? Bagaimana pula dengan pembantaian yang menimpa muslim Afghanistan, Kasymir, Moro, Maluku, Poso, dan kini Irak?

Sebagaimana penilaian banyak pihak bahwa pemerintah Indonesia hanya basa-basi dalam menyikapi invansi AS ke Irak, penilaian serupa tertuju pada masing-masing pribadi, adakah dalam ukhuwah kita juga hanya berbasa-basi? Sudahkah solidaritas kita selama ini--apapun bentuknya--merupakan perwujudan maksimal dari apa yang kita miliki dan usahakan? Masing-masing kita yang mengetahui jawabannya. Nastaghfirullahal adhim. Wallahu a'lam. (Abu Zahrah)

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Muslim Itu Dermawan

Muslim Itu Dermawan

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu'a (keluh kesah lagi kikir). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang-orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (Al-Ma'aarij: 19--25).

Manusia cenderung bersikap haluu'a. Apakah itu? Ia ditafsirkan dengan dua ayat berikutnya (20--21): sebuah perangai buruk suka berkeluh kesah lagi kikir. Ketika ia tertimpa kesulitan, hatinya terasa sempit, goncang, dan mudah berputus asa. Ketika beroleh nikmat dan kebaikan, ia bersikap kikir. Yaitu, kikir dari hak Allah dan kikir dari hak sesama.

Tentu tidak semua manusia berperilaku demikian. Seorang muslim semestinya tidak haluu'a, mengapa? Karena, seorang muslim itu ajeg menjaga salatnya. "Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (daimun)." Dengan salat, hati menjadi tenteram. Juga, dengan salat perbuatan keji dan mungkar dapat ditahan. Maka, seorang mukmin yang salatnya ajeg dan benar, ia tidak gampang berkeluh kesah. Karena, kesulitan atau kemudahan baginya mengandung hikmah. Sebagian sahabat bahkan memandang kesulitan sebagai nikmat, seperti perkataan Abu Dzar al-Ghifari, "Miskin lebih aku sukai daripada kaya, dan sakit lebih aku sukai daripada sehat."

Seorang muslim semestinya tidak haluu'a, mengapa? Karena, seorang mukmin menyadari pada hartanya ada hak bagi orang yang meminta (as-sail) dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (al-mahruum). "Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa." As-sail adalah orang yang meminta. Terhadap orang semacam ini terdapat hak bagi dia, seperti dalam sabda Rasulullah saw., "Bagi orang yang meminta-minta terdapat hak, meskipun ia datang mengendarai kuda." (HR Abu Dawud dari hadis Sufyan ats-Tsauri, dalam riwayat lain disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib).

Adapun al-mahrum, seperti didefinisikan Ibnu Abbas, adalah orang yang bernasib buruk. Ia tidak memiliki bagian dalam baitul mal, tidak memiliki pendapatan, dan tidak memiliki pekerjaan yang dapat menopang. Rasulullah pernah bersabda, "Orang miskin bukanlah orang yang keliling dan engkau memberinya sesuap atau dua suap makanan dan sebutir atau dua butir kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang mencukupinya sedangkan orang lain tidak mengetahuinya sehingga bersedekah kepadanya." (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, seorang muslim semestinya dermawan, tidak kikir dan tidak bakhil. Karena, seorang muslim senantiasa merenungkan ayat-ayat Allah, seperti dalam ayat berikut.

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Rabku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh." (Al-Munafiqun: 10).

Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabatnya, "Manakah yang lebih kalian cintai: harta ahli waris atau harta sendiri?" Mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, tentu tidak seorang pun di antara kita kecuali lebih mencintai hartanya sendiri." Rasulullah meneruskan, "Sesungguhnya harta seseorang ialah apa yang telah ia gunakan, dan harta ahli waris adalah apa yang belum ia gunakan." (HR Bukhari).

Abu Bakar al-Jazairi menceritakan sebuah kisah yang mengagumkan di dalam Minhajul Muslim Dikisahkan bahwa Ibunda Aisyah r.a. mendapat kiriman uang sebanyak 180.000 dirham dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Oleh beliau uang itu disimpan di mangkuk dan dibagikan kepada manusia hingga tak tersisa. Pada sore harinya, Aisyah berkata kepada budak wanitanya, "Antarkan makanan berbuka untukku." Budak wanita tersebut menghidangkan roti dan minyak kepada Aisyah. Beliau berkata kepada budak, "Mengapa engkau tidak mengambil uang satu dirham dari uang yang aku bagikan tadi buat membeli daging untuk buka puasa kita?" Budak tersebut menjawab, "Jika engkau mengingatkanku sejak tadi, aku pasti melakukan."

Dalam kekiniian, betapa banyak kita temukan dua tipe masusia di atas. Tipe orang muskin meminta-minta karena kondisi memaksa, juga tipe orang yang tidak memiliki kekayaan, penghasilan, pekerjaan, namun ia enggan untuk meminta. Terhadap tipe pertama, akan lebih mudah bagi kita untuk mengetahuinya, namun terhadap tipe kedua, diperlukan sedikit perhatian untuk mengetahuinya. Di sinilah perlunya sikap peka terhadap lingkungan. Budaya modernisme sering berdampak pada menjadikan orang berperilaku egois, tidak mengenal tetangga, tidak mengenal lingkungan. Setiap hari ia makan enak, namun ia tidak mengetahui bahwa orang-orang di sekitarnya tengah kelaparan.

Terlebih al-mahrum, tidak mesti mereka kelompok marginal yang tidak mampu bekerja. Kadang mereka kelompok profesional yang tidak tertopang situasi dan sarana yang mendukung untuk bekerja, seperti tidak adanya lapangan pekerjaan atau tertimpa bencana perang. Dalam konteks ini, perlu aktualisasi kedermawanan bagi muslim yang "kuat", tentu tidak sekadar berpikir memberi ikan, melainkan harus juga berpikir bagaimana memberi kail. Wallahu a'lam bish-shawab. (Abu Zahrah).

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Berbuat Baik Disukai Allah

Berbuat Baik Disukai Allah

"Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195).

Ali bin al-Husain memiliki hamba sahaya perempuan. Suatu hari sang budak menuangkan air wudu untuknya. Tanpa disengaja, ceret, tempat air wudhu, jatuh menimba wajah Ali hingga terluka. Ali Zainal Abidin dengan marah menatap wajah sang budak. Merasa bersalah sang budak berkata, (mengutip surah Ali Imran ayat 134 yang menyebutkan kriteria orang bertakwa), "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wal kaazimiinal ghaidl,' (Dan orang yang menahan amarahnya)."
Ali menjawab, "Aku telah menahan amarahku."
Hamba sahaya berkata lagi, "Wal 'aafiina 'anin nas" (Dan orang-orang yang memberikan maafnya).
Ali menimpali, "Semoga Allah memaafkan kamu."
Ia berkata lagi, "Wallahu yuhibbul muhsiniin" (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan).
Ali membalas, "Engkau telah kubebaskan karena Allah Azza wa Jalla." (Al-Bidayah IX/112).

Subhanallah! sungguh sebuah sikap yang mengagumkan. Amarah yang berhenti dalam sekejab karena dibacakan ayat, disusul pemberiaan maaf, bahkan pembebasan budak karena dorongan berbuat ihsan. Tercermin sebuah kematangan emosi, pengagungan akan ayat Allah, dan sikap memilih dan melakukan yang terbaik (ahsanahu).

Itulah profil muslim. Karena, Islam dibangun di atas tiga pilar: Islam, iman, dan ihsan. "Tadi adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan din kepada kalian." Itulah jawaban Rasulullah ketika malaikat datang dan bertanya perihal Islam, iman dan ihsan. Jadi, dinul Islam dibangun di atas ketiganya.

Perbuatan ihsan itu banyak bentuk dan ragamnya. Ihsan dalam hal ibadah, seperti jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril, "Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim). Ihsan dalam ibadah adalah adanya rasa selalu diawasi Allah Taala ketika menunaikannya, seolah ia melihat Allah, atau minimal merasakan bahwa Allah melihatnya. Untuk itu, harus dilakukan dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunah dan tata-caranya. Karena, ibadah tidak akan dilihat oleh Allah jika menyelisihi tata-cara yang disyariatkan. Demikian ditulis oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Minhajul Muslim. Beliau juga menilis bentuk-bentuk berbuat ihsan dalam bidang muamalah, misalnya dengan berbuat baik kepada orang tua, sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, musafir, pembantu, manusia secara umum dan hewan, seperti tersebut dibawah ini.

Berbuat baik kepada orang tua bisa dengan menaatinya, memberikan kebaikan kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat-wasiat keduanya dan menghormati teman-teman keduanya.

Berbuat baik kepada sanak keluarga misalnya dengan menyayangi mereka, lemah lembut terhadap mereka, mengerjakan perbuatan baik bersama mereka, tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyusahkan mereka dan tidak menjelek-jelakkan ucapan mereka.

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mendidik mereka, membina mereka, tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, ceria di depan mereka, dan mengusap kepala mereka.

Berbuat baik kepada orang-orang miskin adalah dengan menghilangkan kelaparan mereka, menutup aurat mereka, menganjurkan manusia memberi makan kepada mereka, tidak mencaci kehormatan mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menimpakan kesusahan kepada mereka.

Berbuat baik kepada musafir ialah dengan memenuhi kebutuhannya, menutup aibnya, menjaga hartanya, melindungi kemuliannya, memberinya petunjuk jika ia meminta petunjuk, dan menunjukkannya jika tersesat.

Berbuat baik kepada pembantu adalah dengan menggajinya sebelum keringatnya kering, tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan, menjaga kemuliaannya, dan menghormati kepribadiannya. Jika pembantu tersebut menetap di rumah yang dibantu, baginya memberi makan seperti yang ia makan, memberi pakaian seperti yang ia kenakan.

Berbuat baik kepada manusia secara umum antara lain dengan berkata lembut kepada mereka, mempergauli mereka dengan pergaulan yang baik setelah sebelumnya menyuruh mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di antara mereka, mengajari orang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak mengganggu mereka dengan mengerjakan tindakan yang membahayakan mereka dan lain sebagainya.

Berbuat baik kepada hewan adalah dengan memberinya makan jika lapar, mengobatinya jika sakit, tidak membebani dengan muatan yang tidak mampu ditanggungnya, lemah lembut terhadapnya jika bekerja, dan mengistirahatkannya jika lelah.

Begitulah bentuk-bentuk ihsan. Semoga kita tergolong dalam barisan muhsinin yang dicintai Allah, seperti dalam firman di atas, "Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195). Wallahu a'lam bish shawab. (Abu Zahrah)

 
 
 
 
Copyright © kaKikuKz